Kamis, 29 November 2012

Profil Pondok Pesantren Sidogiri



PESANTREN TETAP TEGUH MELESTARIKAN TRADISI SALAF        PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
Persepsi masyarakat terhadap madrasah di era modern belakangan ini semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan, dan di saat perdagangan bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin dibutuhkan manusia modern.Terlepas dari berbagai problema yang dihadapi, baik yang berasal dari dalam sistem seperti masalah manajemen, kualitas input, dan kondisi sarana prasarananya, maupun dari luar sistem seperti persyaratan akreditasi yang kaku dan aturan-aturan lain yang menimbulkan kesan madrasah sebagai “sapi perah”, madrasah yang memiliki karakteristik khas yang tidak dimiliki oleh model pendidikan lainnya itu menjadi salah satu tumpuan harapan manusia modern untuk mengatasi keringnya hati dari nuansa keagamaan dan menghindarkan diri dari fenomena demoralisasi dan dehumanisasi yang semakin merajalela seiring dengan kemajuan peradaban teknologi dan materi.
Sebagai jembatan antara model pendidikan pesantren dan model pendidikan sekolah, madrasah menjadi sangat fleksibel diakomodasikan dalam berbagai lingkungan. Di lingkungan pesantren, madrasah bukanlah barang asing karena memang lahirnya madrasah merupakan inovasi model pendidikan pesantren. Dengan kurikulum yang disusun rapi, para santri lebih mudah mengetahui sampai di mana tingkat penguasaan materi yang dipelajari.
Dengan metode pengajaran modern yang disertai audio visual, kesan kumuh, jorok, ortodoks, dan eksklusif yang selama itu melekat pada pesantren sedikit demi sedikit terkikis. Masyarakat metropolitan makin tidak malu mendatangi dan bahkan memasukkan putra-putrinya ke pesantren dengan model pendidikan madrasah. Baik mereka yang sekadar berniat menempatkan putra-putrinya pada lingkungan yang baik (agamis) maupun yang benar-benar menguasai ilmu yang dikembangkan di pesantren tersebut, orang makin berebut untuk mendapatkan fasilitas di sana.
Melihat kenyataan seperti itu, tuntutan pengembangan madrasah akhir-akhir ini dirasa cukup tinggi. Pengembangan madrasah di pesantren yang pada umumnya di luar kota dirasa tidak cukup memenuhi tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, banyak model pendidikan madrasah bermunculan di tengah kota, baik di kota kecil maupun kota-kota metropolitan. Meskipun banyak madrasah yang berkembang di luar lingkungan pesantren, budaya agama, moral, dan etika agamanya tetap menjadi ciri khas sebuah lembaga pendidikan Islam. Etika pergaulan, perilaku, dan performance pakaian para santrinya menjadi daya tarik tersendiri, yang menjanjikan kebahagiaan hidup dunia akhirat sebagaimana tujuan pendidikan Islam.
Jika merujuk pada teori Benjamin S. Bloom (1956) yang dikenal dengan nama taxonomy of educational objectives, keberhasilan pendidikan secara kuantitatif mencakup tiga domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Meskipun demikian, keberhasilan output (lulusan) pendidikan hanyalah merupakan keberhasilan kognitif. Artinya, anak yang tidak pernah salat pun, jika ia dapat mengerjakan tes PAl (Pendidikan Agama Islam) dengan baik, ia bisa lulus (berhasil), dan jika nilainya baik, ia pun dapat diterima pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Lain halnya dengan outcome (performance) seorang alumnus Madrasah, bagaimanapun nilai rapor dan hasil ujiannya, moral keagamaan yang melekat pada sikap dan perilakunya akan menjadi tolok ukur bagi keberhasilan lembaga pendidikan yang menjadi tempat ia belajar. Karena itulah keberhasilan outcome disebut keberhasilan afektif dan psikomotorik. Bagi lembaga pendidikan “madrasah”, kedua standar keberhasilan (output dan outcome) yang mencakup tiga domain taxonomy of educational objectives tidak dapat dipisahkan.
Di samping mendidik kecerdasan, madrasah juga membina moral dan akhlak siswanya. Itulah nilai plus madrasah dibandingkan sekolah umum yang hanya menekankan pembinaan kecerdasan intelek (aspek kognitif) saja. Dengan demikian, madrasah dapat menjadi solusi dalam sistem pendidikan nasional.

Contoh kecil adalah Pondok pesantren sidogiri yang berada di daerah sidogiri keraton pasuruan jawa timur. Pondok pesantren ini memfokuskan pengajarannya pada pembinaan akhlakul karimah, hal ini karena melihat kondisi masyarakat yang kian banyak mengalami krisis mental dan moral. Di tengangah persaingan lembaga pendidikan menciptakan sekolah favorit, sekolah unggulan, sekolah bertaraf internasional dan lain sebagainya, pondok pesantren sidogiri tetap teguh pada pendiriannya yaitu melestarikan treadisi ajaran ulama salaf.  Walau pun demikian, bukan berarti santri buta akan tehnologi. Pembelajaran ilmu umum tetap diajarkan, contoh seperti pengembangan minat dan bakat. walaupun bagaimana ilmu dunia tetap dibutuhkan untuk memenuhi administrasi duniawi.

Mari kita tengok lebih dekat tentang profil pondok pesantren sidogiri ini. Bagaimana sistem struktur  kepengerusannnya? Seperti apa model pembelajarannya? Bagaimana menejemen usaha yang dikembangkannya?

A. SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
Sidogiri dibabat oleh seorang Sayyid dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW dari marga Basyaiban. Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati. Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.
Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah.  
a. Tahun Berdiri
Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.
Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.   
b. Panca Warga
Selama beberapa masa, pengelolaan Pondok Pesantren Sidogiri dipegang oleh kiai yang menjadi Pengasuh saja. Kemudian pada masa kepengasuhan KH Cholil Nawawie, adik beliau KH Hasani Nawawie mengusulkan agar dibentuk wadah permusyawaratan keluarga, yang dapat membantu tugas-tugas Pengasuh.
Setelah usul itu diterima dan disepakati, maka dibentuklah satu wadah yang diberi nama “Panca Warga”. Anggotanya adalah lima putra laki-laki KH Nawawie bin Noerhasan, yakni:
  1. KH Noerhasan Nawawie (wafat 1967)
  2. KH Cholil Nawawie (wafat 1978)
  3. KH Siradj Nawawie (wafat 1988)
  4. KA Sa’doellah Nawawie (wafat 1972)
  5. KH Hasani Nawawie (wafat 2001)
Dalam pernyataan bersamanya, kelima putra Kiai Nawawie ini merasa berkewajiban untuk melestarikan keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri, dan merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan asas dan ideologi Pondok Pesantren Sidogiri. 
c. Majelis Keluarga
Setelah tiga anggota Panca Warga wafat, KH Siradj Nawawie mempunyai gagasan untuk membentuk wadah baru. Maka dibentuklah organisasi pengganti yang diberi nama “Majelis Keluarga”, dengan anggota terdiri dari cucu-cucu laki-laki KH Nawawie bin Noerhasan.
Rais Majelis Keluarga pertama sekaligus Pengasuh adalah KH Abd Alim Abd Djalil. Sedangkan KH Siradj Nawawie dan KH Hasani Nawawie sebagai Penasehat.
Anggota Majelis Keluarga saat ini adalah:
  1. KH A Nawawi Abd Djalil (Rais/Pengasuh)
  2. d. Nawawy Sadoellah (Katib dan Anggota)
  3. KH Fuad Noerhasan (Anggota)
  4. KH Abdullah Syaukat Siradj (Anggota)
  5. KH Abd Karim Thoyib (Anggota)
  6. H Bahruddin Thoyyib (Anggota)

d. Urutan Pengasuh
Keberadaan Panca Warga dan selanjutnya Majelis Keluarga, sangat membantu terhadap Pengasuh dalam mengambil kebijakan-kebijakan penting dalam mengelola Pondok Pesantren Sidogiri sehingga berkembang semakin maju.
Tentang urutan Pengasuh, terdapat beberapa versi, sebab tidak tercatat pada masa lalu. Dalam catatan yang ditandatangani KH A Nawawi Abd Djalil pada 2007, urutan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri sampai saat ini adalah:
  1. Sayyid Sulaiman (wafat 1766)
  2. KH Aminullah (wafat akhir 1700-an/awal 1800-an)
  3. KH Abu Dzarrin (wafat 1800-an)
  4. KH Mahalli (wafat 1800-an)
  5. KH Noerhasan bin Noerkhotim (wafat pertengahan 1800-an)
  6. KH Bahar bin Noerhasan (wafat awal 1920-an)
  7. KH Nawawie bin Noerhasan (wafat 1929)
  8. KH Abd Adzim bin Oerip (wafat 1959)
  9. KH Abd Djalil bin Fadlil (wafat 1947)
  10. KH Cholil Nawawie (wafat 1978)
  11. KH Abd Alim Abd Djalil (wafat 2005)
  12. KH A Nawawi Abd Djalil (2005-sekarang)





B. KOORDINASI KETUA I PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
a. Madrasah Miftahul Ulum
Secara umum kegiatan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri terdiri dari dua bagian yaitu pendidikan madrasiyah (klasikal) dan pendidikan ma’hadiyah (non-klasikal). Pendidikan madrasah dilaksanakan di Madrasah Miftahul Ulum (MMU) dengan menggunakan kurikulum pendidikan salaf yang menitikberatkan pada penguasaan materi ilmu-ilmu agama Islam (diniyah) seperti tata bahasa Arab, fikih, tauhid, akhlak, sejarah, tafsir, Hadis dan al-Qur’an. Umumnya pedoman materi yang dipakai adalah kitab-kitab kuning atau karya ulama-ulama dari Abad Pertengahan.
           Pendidikan di MMU ini dibagi menjadi empat tingkat yaitu: Sifir (satu tahun), Ibtidaiyah (enam tahun), Tsanawiyah (tiga tahun) dan Aliyah (tiga tahun). Di samping itu, masih ada jenjang pendidikan persiapan khusus untuk santri atau murid baru yang mendaftar setelah bulan Syawal. Jenjang pendidikan ini diberi nama Isti’dadiyah. Jenjang ini menggunakan program khusus dan diselesaikan hanya dalam waktu 1 tahun.
1. Tingkat Sifir dan Ibtidaiyah
Madrasah Miftahul Ulum tingkat Sifir (nol) dan Ibtidaiyah berdiri Pada tanggal 14 Shafar 1357 H atau 15 April 1938 M. Saat itu, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri adalah KH Abd. Djalil bin Fadlil bin Abd. Syakur.
Tingkat pendidikan MMU Ibtidayah secara normal ditempuh dalam waktu empat tahun (kelas III sampai kelas VI). Meski demikian terdapat program khusus sistem kelas akselerasi yang ditempuh hanya dalam waktu lima tahun. Kelas akselerasi ini disebut PK (Program Khusus). Kelas PK diperuntukkan bagi murid yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam menguasai materi pelajaran. Kelas PK dibagi menjadi dua yaitu PK-1 dan PK-2, sebagai sistem akselerasi dari kelas IV, V, VI.
Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah dilaksanakan pada pagi hari mulai dari jam 7.30 WIS sampai 12.10 WIS kecuali kelas PK. Untuk kelas akselerasi ini ditambah dua jam pelajaran lagi.
2. Tingkat Tsanawiyah
Pendidikan Madrasah tingkat Tsanawiyah merupakan jenjang lanjutan bagi murid yang telah tamat dari tingkat Ibtidaiyah. Madrasah Tsanawiyah berdiri pada bulan Dzul Hijjah 1376 H. bertepatan dengan bulan Juli 1957 M.
Jenjang pendidikan di tingkat Tsanawiyah diselesaikan tiga tahun yaitu kelas I sampai kelas III, kecuali kelas PK (kelas akselerasi) yang hanya ditempuh dalam waktu dua tahun. KBM tingkat Tsanawiyah dilaksanakan pada siang hari mulai jam 12.20 WIS sampai jam 05.00 WIS kecuali kelas PK. Untuk kelas akselerasi ini ditambah dua jam pelajaran lagi.
Sebagai upaya pendalaman akidah dan pengembangan kreativitas murid, MMU tingkat Tsanawiyah memiliki organisasi murid yang fokus untuk kaderisasi Ahlussunnah wal Jama’ah (Annajah). Kegiatan utama organisasi ini berupa kursus akidah, fikih kemasyarakatan, dan tasawuf. Selain itu, Annajah juga menerbitkan majalah dinding untuk memacu kreativitas menulis murid-murid Tsanawiyah.
3. Tingkat Aliyah
Pendidikan tingkat Aliyah merupakan jenjang lanjutan bagi murid yang telah tamat dari tingkat Tsanawiyah. Madrasah Miftahul Ulum mulai memiliki tingkat Aliyah sejak tanggal 3 Muharram 1403 H bertepatan dengan tanggal 21 Oktober 1982 M.  Sejak tahun pelajaran 1425/1426 H. MMU tingkat Aliyah menerapkan sistem kejuruan untuk murid-murid yang sudah berada di semester III sampai VI. Jurusan yang disediakan adalah Tarbiyah, Dakwah dan Muamalah.
MMU Aliyah memiliki organisasi murid yang bernama OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah). OMIM didirikan pada tanggal 28 Muharram 1414 H./17 Juli 1993 M. Orientasi kegiatannya adalah pengembangan kreativitas. Untuk tujuan ini, OMIM memiliki beberapa unit kegiatan (UK), yaitu:
1.UKPI (Unit Kegiatan Pe­ng­em­­bangan Intelektual)
Unit Kegiatan ini memiliki agenda mengembangkan potensi intelektual murid MMU A liyah. UKPI aktif mengadakan diskusi-diskusi ilmiah dan seminar.
2.UKM (Unit Kegiatan Mading)
Unit Kegiatan ini aktivitas utamanya adalah menerbitkan mading OMIM yang bernama Himmah. Unit ini sering mengikuti ajang lomba mading tingkat propinsi yang diadakan oleh Deteksi Jawa Pos. Sudah beberapa kali menyabet pengharagaan dari Deteksi.
3.UKPBM (Unit Kegiatan Pengembangan Bakat dan Minat)
Untuk menggali bakat dan minat murid Aliyah, OMIM juga membuat wadah yang disebut dengan UKPBM (Unit Kegiatan Pengembangan Bakat dan Minat). UKPBM aktif mengadakan lomba karya tulis ilmiah, puisi pesantren, cerpen, dan lainnya.
4.UKPM (Unit Kegiatan Penerbitan Majalah)
Unit ini menerbitkan majalah IJTIHAD. Majalah IJTIHAD sudah terbit semenjak tahun 1415-1426 atau sekitar 13 tahun yang lalu. Terbit tiap semester dengan oplah 5000 eksemplar.
4.Tingkat Isti’dadiyah
           Tingkat Isti’dadiyah ini merupakan sekolah persiapan bagi santri baru yang diprogram hanya untuk satu tahun pelajaran. Pada tahun berikutnya, murid-murid madrasah ini sudah harus masuk di tingkat Ibtidaiyah atau Tsanawiyah sesuai dengan hasil ujian di akhir tahun pelajarannya. Sistem pembelajaran di tingkat Isti’dadiyah dibagi menjadi dua semester, dan di setiap akhir semester diselenggarakan ujian kenaikan kelas.
KBM di tingkat Isti’dadiyah sejak tahun pelajaran 1428-1429 ini dilaksanakan di pagi hari. Sebelumnya dilaksanakan di malam hari.
b.Madrasah Miftahul Ulum Ranting
MMU Ranting adalah madrasah afilial dari Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri. MMU Ranting dibuka untuk mengembangkan kualitas madrasah-madrasah diniyah di berbagai wilayah. Sebab, madrasah-madrasah diniyah biasaya dikelola dengan manajemen dan sistem yang sederhana. Pondok Pesantren Sidogiri membuka kesempatan kepada madrasah-madrasah di pedesaan untuk bergabung dan bersama-sama mengembangkan diri.
MMU Ranting dibuka pertama kali pada tahun 1961, atas gagasan dari KA. Sa'doellah Nawawie, Madrasah yang pertama kali meranting ke MMU Ibtidaiyah adalah madrasah yang terletak desa Jeruk. Namun, setelah jumlah madrasah afilial mencapai 7 pada tahun 1982, maka pengurus berisiniatif untuk membuat penomoran. Dan, nomor urut pertama (MMU 01) adalah madarasah yang terletak di desa Lebaksari.
Saat ini, jumlah madrasah yang menjadi Ranting MMU sebanyak 126 madrasah dan dibagi dalam 2 klasifikasi: Tipe A dan Tipe B. Madrasah ranting tipe A adalah madrasah ranting yang berada di Kabupaten Pasuruan. Jumlahnya sebanyak 69 madrasah tingkat Ibtidaiyah dan 15 madrasah tingkat Tsanawiyah. Sedangkan tipe B adalah madrasah ranting yang berada di luar Pasuruan. Jumlahnya sebanyak 31 madrasah tingkat Ibtidaiyah dan 11 tingkat Tsanawiyah.
Setelah 14 tahun berdiri, pada tahun 85, atas ide dari Ketua I PPS saat itu (H. Mahmud Ali Zain), MMU induk mengadakan Musabaqah (perlombaan) Antar Madrasah Ranting (MUAMMAR) dilaksanakan setelah Imda I dan Imda II. Selain untuk menambah erat jalinan ukhuwah antar (murid) madrasah ranting, lomba ini juga ditujukan untuk menggugah semangat belajar murid.
Syarat Menjadi Madrasah Ranting :
1.Mengajukan permohonan;
2.Sudah mempunyai pengurus dan pengajar;
3.Sudah mempunyai pendidikan formal (punya gedung, kelas dll.);
4.Mata pelajaran sama dengan madrasah induk secara keseluruhan;
5.Tingkatan kelas minimal sampai kelas 4;
6.Jumlah murid keseluruhan minimal 50;
7.Bersedia mengganti nama madrasah asal dengan MMU;Dalam satu desa tidak terdapat dua madarasah ranting, kecuali satu kepengurusan atau mendapatkan rekomendasi dari ranting yang lama.
 C. BADAN TARBIYAH WA AT-TAKLIM MADRASY (BATARTAMA)
Batartama merupakan mitra dari Madrasah Miftahul Ulum dalam menjalankan dan mengembangkan proses pendidikan madrasiyah (klalisikal) di Pondok Pesantren Sidoagiri. Batartama juga berperan sebagai pembantu ahli dari Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri dalam menjalankan pendidikan madrasiyah ini.
Tugas Batartama di antaranya adalah menangani Kurikulum Madrasah. Batartama bertugas menganalisa kesesuaian dan keefektifan materi-materi pelajaran yang dipakai di madrasah. Pada tahun ini, Batartama telah melakukan revisi untuk materi mata pelajaran kaidah fikih di Tsanawiyah, dan materi Amtsilat-Tashrifiyah, materi mata pelajaran sharaf di kelas 3 dan 4 Ibtidaiyah. Mengenai kurikulum ini, Batartama juga telah menyusun sendiri kitab tarikh (sejarah) Khulafaur Rasyidin. Hal ini dilakukan karena kitab/buku sejarah Khulafaur Rasyidin yang beredar di Indonesia umumnya mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah.
Batartama juga telah menyusunan silabi pendidikan diniyah. Dengan adanya silabi, diharapkan target KBM bisa tercapai dengan baik. Untuk tujuan ini, Batartama telah membentuk tim dan mendatangkan tim dari Depag dan Diknas Jawa Timur untuk memberikan pengarahan tentang silabi kepada tim.
Pola silabi yang diterapkan untuk Madrasah Miftahul Ulum tentu saja berbeda dengan pola silabi yang dibuat oleh Diknas. Sebab, di MMU materi-materi pelajarannya sudah ditentukan lebih dahulu. Pembuatan silabi ini dimaksudkan untuk menentukan arah dan target yang mesti dikuasai oleh murid dalam satuan-satuan pembahasan yang ada di dalam kitab. Pedoman arah dan target ini akan digunakan sebagai pedoman utama dalam pembuatan soal dalam penyelenggaraan evaluasi belajar murid.
Selain tugas pengembangan kurikulum, Batartama juga memiliki tugas-tugas lain, yaitu:
1.Binwasma (Pembinaan dan Pengawasan Madrasah)
2.Binwasadma (Pembinaan dan Pengawasan Administrasi Madrasah)
3.Binwaslab (Pembinaan dan Pengawasan Labsoma)
4.BP (Bimbingan dan Penyuluhan)
5.Kapinsihma (Perlengkapan, Inventarisasi dan Kebersihan Madrasah).

a.Laboratorium Soal Madrasah (Labsoma)
Laboratorium Soal Madrasah (Labsoma) adalah badan yang bertugas membuat, mengoreksi, dan mendokumentasi seluruh kebutuhan soal ujian di setiap tingkat di Madrasah Miftahul Ulum, baik Induk maupun Ranting. Jenis soal yang dibuat Labsoma variatif, sesuai dengan masing-masing tingkat pendidikan di madrasah. Untuk tingkat Ibtidaiyah dan Isti’dadiyah, jenis soal yang dibuat Labsoma lebih fokus pada aspek hafalan. Sedangkan tingkat Tsanawiyah, di samping hafalan, jenis soal yang dibuat sudah mengarah pada pemahaman. Khusus untuk tingkat Aliyah, jenis soal yang dikeluarkan meliputi hafalan, pemahaman, dan penalaran.
Untuk peningkatan kualitas soal dan pembenahan manajemen, Labsoma mengubah sistem pembuatan soal. Tidak seperti tahun sebelumnya, dalam pembuatan soal kali ini pimpinan Labsoma mengkelompokkan anggotanya menjadi beberapa tim. Satu tim bertanggung jawab untuk membuat soal untuk satu tingkat pendidikan. Misalnya tim yang ditunjuk untuk membuat soal untuk tingkat Ibtidaiyah tidak diperkenankan untuk membuat soal untuk tingkat Aliyah. Tim ini diketuai oleh masing-masing perwakilan pimpinan madrasah yang juga merangkap menjadi anggota Labsoma. Sistem ini dipakai agar soal yang diterbitkan sesuai dengan kemampuan dan pola pikir murid di masing-masing tingkatan.
Namun demikian, setiap soal yang diterbitkan Labsoma tidak serta merta langsung dijadikan bahan ujian di madrasah. Soal-soal tersebut masih melalui beberapa koreksi dan seleksi. Untuk soal imtihan daury (Imda atau ujian semester dan triwulan), tahap pembuatan soal adalah seperti berikut:
1.Dibuat oleh anggota tim.
2.Diseleksi dan dikoreksi oleh ketua tim yang sekaligus menjadi perwakilan madrasah.
3.Diseleksi dan dikoreksi oleh Kepala Madrasah masing-masing tingkat.
4.Diserahkan kembali ke Labsoma untuk diketik, lalu dicetak menjadi bahan ujian.
Sedangkan soal untuk Imtihan Nihai (Imni atau ujian akhir), tahap pembuatan soal adalah seperti berikut:
1.Dibuat oleh anggota tim.
2.Diseleksi dan dikoreksi oleh ketua tim.
3.Diseleksi dan dikoreksi oleh Kepala dan Wakil Kepala Labsoma.
4.Diseleksi dan dikoreksi oleh kepala Madrasah masing-masing tingkatan.
5.Diseleksi dan dikoreksi oleh Batartama.
6.Proses seleksi semacam ini diterapkan agar soal yang dikeluarkan sesuai dengan ukuran kemampuan murid.

D.KOORDINASI KETUA II PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
a. Bagian Ketertiban Dan Keamanan (Tibkam)
Visi Pondok Pesantren Sidogiri adalah mewujudkan santri yang menjadi ibâdillâh ash-shâlihîn (orang-orang saleh). Tujuan ideal ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya perangkat aturan dan tata tertib. Peraturan dan tata tertib tidak akan efektif tanpa adanya pengawasan.
Bagian Tibkam (Ketertiban dan Keamanan) merupakan salah satu perangkat penting di Pondok Pesantren Sidogiri untuk membawa santri mematuhi peraturan. Tibkam bertugas mengawasi dan memberikan sanksi jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan dan tata tertib. Dengan fungsi ini diharapkan sikap disiplin dan taat aturan tertanam dengan baik dalam jiwa para santri.
Tibkam dikepalai oleh seorang Kepala Bagian (Kabag), 11 Pembatu Khusus (5 Bansus Tibkam Dalam dan 6 Bansus Tibkam Luar), dan ditambah seorang Kepala Petugas Balai Tamu. Selain itu, Bag. Tibkam memiliki garis hubungan fungsional dengan personel Tibkam yang dimiliki oleh masing-masing asrama (daerah).
Selain bertugas melakukan penertiban di dalam, Tibkam juga bertugas menjaga keamaan Pesantren. Untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan di malam hari, bagian Tibkam mengadakan ronda keliling. Setiap malam, sedikitnya ada 68 orang santri yang melakukan piket ronda keliling, sejak pukul 12.00 (malam) sampai jam 4.00 wis.
Selain bertugas menangani ketertiban dan keamanan, Bag. Tibkam juga bertugas memfasilitasi para wali santri (tamu) yang berkujung ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk menjenguk (mengirim) putranya. PPS menyediakan satu gedung Balai Tamu yang penanganannya diserahkan kepada Bag. Tibkam. Selain, ruang pertemuan, gedung Balai Tamu juga dilengkapi dengan ruang istirahat, kamar mandi dan WC, serta musolla.
Dalam hari-hari normal jumlah tamu yang berkunjung hanya berkisar 20 sampai 80 keluarga. Sedang pada hari Jumat bisa mencapai 90 sampai 120 keluarga. Puncaknya terjadi pada hari raya Idul Adha; wali santri yang menjenguk (mengirim) putranya bisa mencapai 500 sampai 650 keluarga.
Pagi
Siang
Malam
Pukul 07.00 – 11.30 Wis
(Jumat 07.00 – 11.00 Wis)
Pukul 01.30 – 05.00 Wis
Pukul 07.30 – 08.30 Wis
10.00 – 11.00 Wis
Jam Buka Pelayanan Pemanggilan Santri

b. Perpustakaan sidogiri
Pada awal berdirinya tahun 1973, sebenarnya Perpustakaan Sidogiri merupakan inisiatif perorangan. Perpustakaan Sidogiri mulai berkembang pesat sejak KH Cholil Nawawie mewakafkan seluruh kitabnya. Kitab-kitab itu sampai sekarang masih tersimpan rapi di perpustakaan, mekipun fisiknya sudah banyak yang lapuk dimakan usia.
Sebagai tindak lanjut dari keinginan Pengurus menjadikan Perpustakaan Sidogiri sebagai perpustakaan pesantren terlengkap, pada tahun ini Pengurus memberikan suntikan anggaran dana sebesar Rp. 92,825,000. Dari jumlah tersebut, sebesar 45,800,000 untuk menambah koleksi, selebihnya untuk pemeliharaan, pelaksanaan kegiatan, pengembangan SDM, perlengkapan ATK, dll.
Jumlah koleksi kitab/buku Perpustakaan Sidogiri adalah sebanyak 8,753 judul (15,699 eksemplar) dan itu bisa meningkat setiap tahunnya. Layaknya perpustakaan pesantren, koleksi terbanyak adalah kategori agama dengan kode 200 (selengkapnya lihat grafik). Selain koleksi buku/kitab, Perpustakaan Sidogiri juga melengkapi koleksinya dengan koleksi serial berkala, audio-visual, dan software kitab/ensiklopendia.
Melalui program pengadaan koleksi audio-visual ini, Perpustakaan merekam pengajian yang diaji oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, yaitu kitab Ihyâ’ ‘Ulûmid-dîn, Shahîh al-Bukhâri, dan Fathul-Wahhâb.
Selain berkonsentrasi dengan koleksi kepustakaan, dalam upaya lebih meningkatkan SDM dan penyajian informasi kepustakaan bagi santri, Pepustakaan Sidogiri menerbitkan majalah dinding (mading) “Maktabati”. Mading memuat berita-berita dunia Islam yang disadur dari internet, berita Pesantren, seputar perpustakaan, dan dunia buku. Perpustakaan Sidogiri juga menerbitkan lagi Majalah “Maktabatuna”. Orientasi isi dari majalah ini adalah informasi kepustakaan serta kajian-kajian dan konsultasi seputar kitab, buku dan mushannif/pengarang.
Perpustakaan Sidogiri merupakan sarana yang sangat penting bagi santri untuk mengembangkan diri dan mendalami ilmu pengetahuan agama. Perpustakaan memiliki peran yang sangat besar dalam meningkatkan budaya baca di tengah-tengah santri. Setiap hari, santri yang berkunjung ke Perpustakaan Sidogiri, rata-rata 500-600 orang. Di sinilah mereka melengkapi ilmu pengetahuan agama yang mereka dapatkan dari mengaji, madrasah atau kegiatan-kegiatan ilmiah yang lain.
c. Daerah (Asrama Pemukiman Santri)
Salah satu ciri pesantren yang jarang dimiliki oleh lembaga-lembaga pendidikan lain adalah adanya asrama pemukiman santri. Adanya asrama ini membuat santri betul-betul fokus di seluruh waktunya untuk belajar dan menempa diri. Di Pondok Pesantren Sidogiri, tempat asrama santri diistilahkan “Daerah”. Setiap daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah (Kepda), dibantu 6 Pembatu Urusan Daerah (Baurda), dan seorang Kepala Kamar (Kepma) untuk setiap kamar.
Dengan menempatkan santri di daerah-daerah, diharapkan perilaku keseharian santri dapat terkontrol dengan baik, karena lingkungan merupakan faktor yang sangat dominan dalam pendidikan dan dalam membentuk sebuah karakter. Sehingga, pendidikan yang diajarkan di kelas atau surau tercapai dengan optimal. Selain itu, daerah juga merupakan tempat untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan nyata.
1. Daerah Khusus
Di Pondok Pesantren Sidogiri, ada beberapa daerah yang memiliki fungsi khusus, yaitu:
1) Daerah A (bagian atas) merupakan asrama khusus Tahfizhul-Qur’an;
2) Daerah H, K, dan L merupakan asrama khusus bahasa Arab dan Inggris;
3) Daerah J merupakan asrama khusus santri-santri kelas tiga Ibtidaiyah ke bawah
4) Daerah Z merupakan asrama khusus petugas Kopontren (Koperasi pondok pesantren).

2. Peran Kepala Kamar
Di Pondok Pesantren Sidogiri, Kepala Kamar berperan sebagai orang tua asuh, karena Kepala Kamar-lah yang langsung berinteraksi dengan santri/warga. Ada 267 kamar di Pondok Pesantren Sidogiri, dengan jumlah warga yang tidak sama.  Setiap bulan Kepala Kamar melaporkan perkembangan santri yang berada di kamarnya kepada Kepala Daerah dan Ketua II (Pengurus Harian yang menangani kedaerahan). Rapat ini juga menjadi ajang konsultasi dan pemecahan masalah yang terjadi di kamar-kamar.

E. KOORDINASI KETUA III PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
a. Bagian Ubudiyah
Di samping pendalaman terhadap ilmu agama, prioritas utama Pondok Pesantren Sidogiri, adalah aspek ibadah dan akhlak. Ubudiyah adalah instansi yang bertugas menangani aspek ibadah santri.
Di setiap awal tahun ajaran, Ubudiyah mengadakan praktek salat secara massal kepada santri, baik yang lama maupun yang baru. Bahkan praktek salat yang disediakan bukan hanya untuk santri, tapi Ubudiyah juga menyediakan tenaga Pembina bagi masyarakat yang membutuhkan. Di antara program Ubudiyah yang mengarah pada peningkatan kualitas ibadah santri adalah Diklat (Pendidikan Salat). Diklat yang ditangani Ubudiyah dibagi menjadi tiga tingkat:
1.Tingkat Sufla A. Peserta Diklat untuk tingkat ini adalah santri kelas 3 Ibtidaiyah/Isti'dadiyah. Di tingkat ini mereka diarahkan untuk bisa mempraktekkan wudu dan salat wajib dengan baik dan benar.
2.Tingkat Sufla B. Tingkat ini untuk santri kelas 4, 5 Ibtidaiyah dan kelas 4, 5, 6 dan 7 Isti'dadiyah. Target yang ditetapkan adalah mereka bisa mempraktekkan wudu dan tayamum yang sempurna serta salat wajib dan macam-macam salat sunah dengan baik dan benar. Pada tingkat ini materinya ditambah dengan puasa wajib dan puasa sunah.
3.Tingkat Wustha. Peserta pada tingkat ini adalah santri yang telah lulus Tingkat Sufla B. Di tingkat ini pesertanya dituntut bisa mempraktikkan: (a) wudu mukammal bi al-tayammum (wudu yang harus digandeng dengan tayammum karena adanya luka di bagian-bagian wudu); (b) segala hal yang terkait dengan tata cara salat berjamaah, baik sebagai imam atau makmum; (c) salat ma’dzur (salatnya orang sakit, musafir dan semacamnya); (d) shalat jum’at. Materi di tingkat ini ditambah dengan cara merawat mayit, zakat, akikah dan kurban.
Selain Diklat, Ubudiyah juga menyelenggarakan beberapa kursus. Antara lain : (a) Kursus cara mencari arah kiblat kepada santri senior; (b) Kursus pembacaan salawat mulai dari Maulid al-Barzanji, al-Habsyi (Simthud-Durar), ad-Diba’i, dan Syaraful-Anam; (c) Kursus tajhizul-mayyit (hal-hal yang harus dilakukan untuk jenazah). Dalam kursus tajhizul-mayyit kali ini Ubudiyah mengundang peserta dari 58 masjid di sekitar Sidogiri. Masing-masing masjid mengutus dua orang peserta.
Saat ini Ubudiyah juga tengah membuat VCD tajhizul-mayyit, agar santri dan masyarakat lebih mudah mendapatkan sarana belajar tajhizul-mayyit yang sesuai dengan kitab-kitab fikih. Selain upaya peningkatan ibadah di internal pesantren, Ubudiyah juga mempunyai program penyuluhan ibadah untuk masyarakat melalui penerbitan buletin ibadah, bernama Buletin Tauiyah yang terbit sejak bulan Rabiuts Tsani 1427. Buletin ini didistribusikan secara gratis kepada para jamaah 67 masjid di wilayah Pasuruan dan 4 masjid di Probolinggo, Bondowoso, dan Bangkalan.

1.Taklim Wa Tahfidz Al-Qur’an
TTQ (Taklim wa Tahfidz al-Qur’an) adalah instansi di Pondok Pesantren Sidogiri yang khusus menangani kegiatan-kegiatan ma'hadiyah yang berhubungan dengan pengajian dan hafalan al-Qur’an. Lembaga ini terbentuk sejak tahun ini (1428-1429). Pada tahun-tahun sebelumnya, pengajian al-Qur’an berada dibawah naungan Taklimyah. Sedangkan Tahfidz al-Qur’an, adalah instansi yang berdiri sendiri. Karena kesamaan arah dan tujuan, keduanya digabung menjadi satu instansi.

2. Pengajian Al-Quran
Pengajian al-Qur’an yang ditangani oleh TTQ diklasifikasi menjadi dua, Sufla (tingkat pemula bagi Santri kelas 5 Ibtidaiyah ke bawah) dan Wustha (bagi Santri kelas 5 Ibtidaiyah ke atas yang sudah lulus ujian al-Qur’an tingkat sufla). Pada tahun ini, untuk meningkatkan kualitas pengajian al-Qur’an bagi santri yang telah lulus dari tingkat Wustha, TTQ membentuk tingkat Ulya. Capaian yang diharapkan di tingkat Ulya ini adalah penguasaan dalam bidang Qiraat as-Sab'ah.
Di samping mengadakan terobosan yang diharapkan mampu menambah kemampuan di bidang al-Quran, TTQ juga mengupayakan adanya sebuah metode belajar al-Qur’an bagi para pemula sebagaimana halnya metode-metode yang berkembang selama ini. Metode yang dibuat oleh TTQ ini diberi nama metode Qur’ani Metode Qur'ani sudah mulai disosialisasikan di beberapa kecamatan di Pasuruan, Bangkalan, Pamekasan, dan Probolinggo.
3. Tahfidz Al-Quran
Pada awalnya, tahfidz al-Qur’an hanya diikuti oleh 4 orang yang ditangani oleh Ust Mustain Sukandar. Almarhum KH. Nawawi Thoyyib (sewaktu menjabat Ketua Umum) adalah yang berinisiatif mengadakan kegiatan Tahfidz al-Qur’an pada tahun 1998 M. Sejak resmi menjadi sebuah lembaga sendiri pada 10 Dzul Hijjah 1421 dan ditempatkan di asrama khusus, jumlah peserta Tahfidz al-Qur’an semakin bertambah. Dan sejak saat itu pula penanganannya diserahkan kepada Gus Abd Mu’thi Tsani Hasona, menantu Almaghfurlah KH Abd Alim. Kegiatan rutin Tahfidz al-Quran saat ini antara lain: setor hafalan baru, takrar ke Pembina/Badal, khatmil-Qur’an bil-ghaib, khatmil-Quran massal, takrar silang (berpasangan), dan murattal ke Pembina.
Di samping kegiatan di atas, pada tahun ini Tahfidz al-Qur’an juga memfokuskan kegiatan peningkatan kualitas hafalan anggota berupa tes hafalan berkala (tes 5 juz sebagai persyaratan kelayakan untuk naik atau setor pada juz berikutnya). Sebab, yang diprioritaskan dalam menghafal al-Qur’an adalah peningkatan kualitas hafalan, bukan sekedar kuantitasnya.
Pada tahun ini jumlah peserta Tahfidz al-Qur’an sebanyak 98 orang. 13 diantaranya akan diwisuda pada malam puncak Hari Jadi PPS ke-271 dan Ikhtibar MMU ke-72. Sebelumnya, Tahfidz al-Qur’an sudah mewisuda 7 orang (tahun 1423), 15 orang (tahun 1425), dan 6 orang (1427).
4.Kuliyah Syariah
Kuliyah Syariah adalah salah satu lembaga di Pondok Pesantren Sidogiri yang berorientasi melakukan pengembangan dan pendalaman ilmu keagamaan. Anggota Kuliyah Syariah terdiri dari santri senior dari kalangan guru dan santri yang telah menyelesaikan tugas. Tugas utama dari lembaga ini adalah mengkoordinir santri yang mengaji kepada Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Selain itu, Kuliyah Syariah menjadi penggerak pendalaman ilmu keagamaan oleh santri senior. Hal itu dilakukan dengan membentuk forum-forum ilmiah.
5. Pendalaman Fikih
Salah satu lembaga yang diproyeksikan untuk mendalami fikih adalah Lembaga Muraja'ah Fiqhiyah (LMF). LMF merupakan lembaga konsultasi hukum Islam yang bertugas menjawab setiap pertanyaan yang masuk, baik dari kalangan santri maupun masyarakat luas. Setiap jawaban yang dirumuskan oleh LMF diterbitkan dalam bentuk buku untuk didistribusikan kepada santri dan masyarakat yang membutuhkan. Di samping tugas di atas, LMF juga bertugas mengutus dan mempersiapkan para anggotanya untuk menghadiri Bahtsul Masail yang dilaksanakan oleh pesantren, organisasi keislaman, dan semacamnya.
Selain LMF, pendalaman fikih juga dilakukan dengan mengadakan musyawarah (diskusi) yang diikuti oleh santri senior setiap malam selain malam Jumat. Selain itu, Kuliyah Syariah rutin menyelenggarakan Bahtsul Masail setiap semester. Bahtsul Masail pada semester pertama diikuti oleh utusan pesantren se-Jawa dan Madura. Sedangkan Bahtsul Masail semester kedua diikuti oleh utusan alumni Pondok Pesantren Sidogiri dari masing-masing Pengurus Konsulat Ikatan Alumni Santri Sidogiri.
Kuliyah Syariah juga membentuk Laboratorium Fikih. Laboratorium yang menyediakan sarana riset dan eksperimen fikih. Selain laboratorium, pendalam fikih juga diupayakan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan seperti manasik haji, ilmu faraidh.
6. Pendalaman Ilmu Agama Selain Fikih
Selain program pendalaman fikih, Kuliyah Syariah juga memberi perhatian terhadap disiplin limu agama yang lain. Salah satunya adalah membentuk Forum Kajian Ahadits (eFKA). Setiap malam, selain malam Jum'at dan Selasa, anggota forum ini intens mengadakan pertemuan di Perpustakaan Sidogiri untuk berdiskusi seputar disiplin Hadis. Hasil dari diskusi yang mereka lakukan diterbitkan di buletin milik Kuliyah Syariah, yaitu Istinbat.
Kajian tentang tafsir juga menjadi perhatian Kuliyah Syariah melalui Forum Kajian Tafsir (eFKIT). Sama seperti eFKA, anggota eFKIT juga intens melakukan diskusi di Perpustakaan seputar tafsir. Hasil diskusi yang mereka lakukan juga diterbitkan di Buletin Istinbat. Selain diterbitkan di Istinbat, hasil diskusi mereka pada tahun ini juga akan diterbitkan dalam bentuk buku.
Di samping eFKA dan eFKIT, Kuliyah Syariah juga memiliki satu lembaga lagi, yaitu Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI). Penerbitan Buletin Istinbat dan Mading Tafaqquh merupakan salah satu tugas lembaga ini. Selain mempulikasikan hasil kajiannya dalam buletin dan majalah dinding, LPSI juga bertugas membuat buku-buku keislaman, mengadakan diskusi, seminar dan forum-forum ilmiah yang lain.

b. Bagian Taklimiyah
Penguasaan kitab kuning sebagai upaya pendalaman ilmu agama (tafaqquh fid-dîn) menjadi perhatian utama di pesantren manapun. Di Pondok Pesantren Sidogiri, terdapat instansi khusus yang menanganinya, yaitu Taklimiyah. Instansi ini bertugas mengkader santri untuk memahami dan mengkaji kitab kuning sejak dini, sejak di tingkat Tsanawiyah dan Ibtidaiyah. Untuk mencapai tujuan tersebut, Taklimiyah menempuh tiga langkah. Yaitu, menfasilitasi santri untuk menguasai nahwu dan sharaf (gramatika Arab), mengadakan pengajian kitab kuning, dan membentuk forum kajian fikih.
1. Penguasaan Nahwu -Sharaf
Sejak tahun 1424-1425 H, untuk membantu santri agar mudah menguasai ilmu alat, khususnya bagi para pemula, Taklimiyah mengadakan kursus baca kitab cepat ala Amtsilati. Yaitu metode baca kitab yang disusun oleh KH Taufiqul Hakim (Jepara Jawa Tengah). Kursus ini dibuka untuk umum. Di samping itu, Taklimiyah juga menganjurkan santri yang masih duduk di tingkat Ibtidaiyah untuk mengaji kitab-kitab nahwu-sharaf dalam pengajian-pengajian kitab yang diselenggarakannya.
2. Pengajian Kitab Kuning
Pengajian kitab yang diadakan oleh Taklimiyah memakai dua sistem, bandongan/wethonan (guru membaca sedangkan murid menulis atau mendengarkan) dan sorogan (murid membaca dan guru mendengarkan dan mendengarkan). Pengajian ini dilaksanakan pada malam hari di ruang-ruang madrasah dan jerambah-jerambah daerah (asrama). Tahun ini terdapat 57 judul kitab yang dibaca.
3. Forum Kajian Fikih
Untuk membiasakan santri mengkaji fikih sejak dini, maka pada bulan Dzul Hijjah 1428 Taklimiyah membentuk tim yang fokus mengkaji permasalahan-permasalahan yang terkait dengan fikih. Tim ini bernama Kafah (Kaderaisasi Fuqaha Tsanawiyah). Anggota tim ini terdiri dari santri yang duduk di kelas 1-3 Tsanawiyah. Kafah memiliki anggota sebanyak 48 orang. Dalam tiap pekan mereka melakukan 3 kali diskusi tentang tema-tema fikih di Perpustakaan Pondok Pesantren Sidogiri.
Selain forum kajian fikih di pesantren, Taklimiyah juga merintis terbentuknya forum bahtsul masail tingkat yunior antar pesantren se Kabupaten Pasuruan. Forum ini terbentuk pada 17 Jumadal Ula 1429 dengan nama Forum Musyawarah Tingkat Tsanawiyah (FMTT). Sebanyak 35 pesantren dan madrasah ranting diundang untuk bergabung dalam forum ini.
 F. KOORDINASI KETUA IV PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
a. Balai Pengobatan Sidogiri (Bps)
          Balai Pengobatan Sidogiri (BPS) adalah mitra dari Bagian Kebersihan dan Kesehatan yang bertugas untuk mengobati santri yang terjangkit penyakit. Fungsi BPS ini tak ubahnya rumah sakit sebagaimana lazimnya. Santri yang sakit mendapat perawatan gratis di BPS, baik layanan perawatannya maupun obat-obatan yang dibutuhkan. Selain melayani pengobatan santri, BPS juga melayani pengobatan kepada masyarakat umum di sekitar desa Sidogiri.
Layanan pengobatan untuk santri dibuka setiap hari sesuai jadwal yang telah ditentukan, yaitu: pagi hari mulai pukul 09:30 WIB-11:30 WIB; sore pukul 16:00 WIB-17:00 WIB; dan malam hari pukul 20:30 WIB-21:30 WIB. Sedangkan untuk layanan kepada masyarakat di buka 24 jam. Terdapat 5 jenis layanan yang di dibuka oleh BPS untuk melayani para pasiennya, yaitu: Poli Umum, Poli THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan), Poli Gigi, dan Poli Mata, dan Unit Gawat Darurat (UGD).
Untuk mendukung layanan tersebut, saat ini BPS memiliki 4 dokter Spesialis (THT, Mata, Paru-paru, dan gigi), 5 dokter umum, dan 13 tenaga medis serta menyediakan fasilitas rawat inap sebanyak 27 unit. Pada tahun ini juga BPS meningkatkan kualitas dan jenis obat yang dimiliki untuk memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pasiennya. Bila pasien yang ditangani BPS dianggap memerlukan perawatan yang lebih intensif, maka BPS merujuknya ke rumah sakit di Pasuruan atau Bangil.
Dalam menangani pengobatan santri, BPS mengklasifikasi penyakit menjadi dua, menular dan tidak menular. Untuk penyakit yang rentan menular, BPS membagi menjadi dua lagi: yaitu ganas dan biasa. Termasuk kategori ganas seperti liver, kusta, demam berdarah, dan gangguan paru-paru. Bagi santri yang menderita penyakit ini pihak BPS biasanya merekomendasikan untuk berobat di rumah, kecuali gangguan paru-paru., BPS menyediakan perawatan secara intensif selama enam bulan.
Sedangkan untuk penyakit menular yang biasa, seperti cacar dan gatal-gatal, perawatannya cukup ditangani oleh pihak BPS sendiri. Salah satu upaya yang dilakukan BPS untuk mendeteksi penyakit menular adalah dengan memeriksa kesehatan santri baru.
1. Bagian Pengadaan, Perbaikan dan Perawatan Sarana (P3S)
Agar Sarana Pesantren Kondusif untuk Pendidikan. Bagian P3S (Pengadaan, Perbaikan dan Perawatan Sarana) adalah salah satu unsur kepengurusan di Pondok Pesantren Sidogiri yang berada di bawah koordinasi Ketua IV. Bagian ini, sesuai dengan namanya, bertugas manambah, merawat, dan memperbaiki sarana dan prasarana pesantren, agar sarana dan prasarana pendidikan betul-betul kondusif untuk belajar.
Ada dua mekanisme yang dilakukan oleh Bagian P3S dalam menambah atau memperbaiki sarana dan prasarana di pesantren. Pertama, usulan dari masing-masing asrama (daerah) melalui kepala daerah. Kedua, berdasarkan penilaian dari jajaran pengurus Bagian P3S melalui berbagai pertimbangan.
Dengan mekanisme ini, permintaan penambahan sarana atau perbaikan yang masuk ke bagian P3S sangat banyak. Dari sekian banyak usulan, selanjutnya disaring dengan meninjau tingkat kebutuhan, kelayakan dan ketersediaan anggaran. Melalui penyaringan ini Bagian P3S mengklasifikasi program penambahan atau perbaikan menjadi program jangka pendek, jangka menengah, dan atau jangka panjang.

2. Bagian Kebersihan Dan Kesehatan (Sihhat)
Di dunia kesehatan, melakukan langkah antisipatif dengan mencegah lebih baik daripada mengobati. Tugas untuk mencegah ini ditangani oleh Bagian Sihhat. Sedangkan tugas mengobat penyakit ditangani oleh BPS (Balai Pengobatan Sidogiri). Bagian Sihhat bertugas untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada santri tentang tata cara hidup sehat dan menciptakan lingkungan yang bersih. Beberapa langkah dilakukan oleh bagian ini untuk menciptakan hidup bersih dan sehat.
Memberikan penyuluhan kepada para santri adalah salah satu metode yang diterapkan. Penyuluhan ini dilakukan secara rutin dan terjadwal. Dalam setahun beberapa penyuluhan telah dilakukan. Antara lain, penyuluhan tentang penyakit TBC, Muntaber, pemberantasan kutu Scabies (gatal-gatal), dan penyuluhan beberapa penyakit yang seringkali menimpa santri secara temporer.
Di samping penyuluhan, bagian Sihhat PPS juga menganjurkan kepada santri untuk biasa berolahraga. Salah satu olahraga yang diprakarsai Bagian Sihhat adalah senam dengan memanfaatkan tenaga medis di Balai Pengobatan Sidogiri sebagai instruktur. Senam ini dilaksanakan secara rutin setiap satu pekan sekali di Lapangan Olahraga Sidogiri, yaitu pada hari Jum'at pukul 05:30 WIB-06:30 WIB.
Untuk kebersihan lingkungan, di samping menyiapkan sarana dan prasarana kebersihan, Bagian Sihhat bersama tim, juga menilai kebersihan lingkungan di 13 daerah (asrama). Hasil penilaian tim tersebut disampaikan kepada masing-masing kepala daerah setiap laporan bulanan, oleh Ketua IV Pondok Pesantren Sidogiri, yang menjadi koordinator Bagian Sihhat. Dengan langkah ini, Bagian Sihhat berharapa agar masing-masing asrama berlomba-lomba meningkatkan kebersihan dan kesehatan di wilayahnya.
3. Bagian Pengadaan, Perbaikan dan Perawatan Sarana (P3S)
Bagian P3S (Pengadaan, Perbaikan dan Perawatan Sarana) adalah salah satu unsur kepengurusan di Pondok Pesantren Sidogiri yang berada di bawah koordinasi Ketua IV. Bagian ini, sesuai dengan namanya, bertugas manambah, merawat, dan memperbaiki sarana dan prasarana pesantren, agar sarana dan prasarana pendidikan betul-betul kondusif untuk belajar.
Ada dua mekanisme yang dilakukan oleh Bagian P3S dalam menambah atau memperbaiki sarana dan prasarana di pesantren. Pertama, usulan dari masing-masing asrama (daerah) melalui kepala daerah. Kedua, berdasarkan penilaian dari jajaran pengurus Bagian P3S melalui berbagai pertimbangan.
Dengan mekanisme ini, permintaan penambahan sarana atau perbaikan yang masuk ke bagian P3S sangat banyak. Dari sekian banyak usulan, selanjutnya disaring dengan meninjau tingkat kebutuhan, kelayakan dan ketersediaan anggaran. Melalui penyaringan ini Bagian P3S mengklasifikasi program penambahan atau perbaikan menjadi program jangka pendek, jangka menengah, dan atau jangka panjang.
 G. KOORDINASI WAKIL KETUA UMUM PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
a.Urusan Guru Tugas Dan Dai
Pengiriman tenaga pengajar atau lazim disebut Guru Tugas (GT) ke berbagai daerah digagas oleh KA Sa'doellah Nawawie sejak tahun 1961 M. Dari tahun ke tahun permintaan Guru Tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri terus mengalami peningkatan. Setiap tahun tidak kurang dari 600 santri diberangkatkan sebagai tenaga pengajar ke berbagai daerah.
Tujuan penugasan ini menurut KH Siradj Nawawie untuk mencapai tiga maslahat: Maslahat kepada GT itu sendiri, karena dapat mengasah ilmu yang telah dipelajari di Pesantren; Maslahat kepada madrasah penerima GT, karena mendapatkan tenaga bantuan pengajar; Maslahat kepada Pondok Pesantren Sidogiri, karena dengan penugasan ini, salah satu tujuan pesantren didirikan untuk nasyril-’ilmi (menyebarkan ilmu agama) dapat tercapai dengan mudah, sampai kelapisan masyarakat paling bawah sekalipun, yang berdomisili jauh dari lingkungan pesantren.
Setelah pengiriman Guru Tugas (GT) mendapat sambutan yang positif, sejak tahun ajaran 1426-1427 H, Pondok Pesantren Sidogiri juga mulai fokus dengan pengiriman tenaga dai ke daerah-daerah minus sebagai bentuk khidmah Pondok Pesantren Sidogiri kepada masyarakat luas untuk kepentingan dakwah Islamiyah.
Berbeda dengan GT, yang masa tugasnya hanya satu tahun, penempatan dai disesuaikan dengan permintaan dari pemohon yang diistilahkan dengan Penanggung Jawab Guru Tugas (PJGT). Masa tugas dai bersifat kondisional sesuai kebutuhan. Sedangkan dana yang dibutuhkan ditanggung oleh Yayasan Bina Saadah Sidogiri melalui Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah dan Wakaf Sidogiri (Laziswa Sidogiri).
Pada tahun ini, sebanyak 31 dai telah disebarkan di wilayah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tengah. Selain dibantu YBSS, pendanaan pengiriman dai tersebut juga dibantu oleh Pusat Dakwah Yayasan dan Sosial Al-Falah Surabaya. Ke depan, Urusan Guru Tugas dan Dai mengupayakan agar pengiriman dai ini terus ditingkatkan.
 b. Badan Pers Pesantren
Badan Pers Pesantren (BPP) merupakan baru dibentuk oleh Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri pada Periode 1428-14230. Tugas pokok dari badan ini adalah melakukan pengawasan dan pengembangan terhadap majalah-majalah dan website yang diterbitkan oleh berbagai institusi Pondok Pesantren Sidogiri.
Terdapat 7 media cetak, 1 website dan 6 majalah dinding (mading) yang diterbitkan oleh berbagai instansi di Pondok Pesantren Sidogiri. Media-media tersebut memiliki ciri khas, orientasi isi dan bidikan segmen pembaca yang berbeda. Banyaknya media-media yang diterbitkan ini adalah untuk memacu kreativitas santri dalam menulis. Karena kreativitas menulis merupakan tradisi ulama-ulama tempo dulu.
BPP bertugas melakukan koreksi kelayakan terhadap isi dan tampilan media-media tersebut sebelum diterbitkan dan dilempar ke pembaca, pada setiap edisi. Tidak diperkenankan ada majalah yang terbit tanpa mendapat rekomendasi dari BPP.
Hal ini dimaksudkan agar media-media tersebut layak terbit dan isinya tidak bertentangan dengan visi-misi Pondok Pesantren Sidogiri. Kriteria umum dari isi media-media tersebut adalah: 1) tidak bertentangan dengan paham Ahlussunnah, baik secara akidah, syariah maupun akhlak; 2) tidak bertentangan dengan tradisi luhur pesantren yang diteladankan oleh para masyayikh; dan 3) tidak rentan menimbulkan keresahan di masyarakat.
Dengan filter ini diharapkan, para penulis dan pengelola media di Pondok Pesantren Sidogiri tidak terlepas dari mainstream pendidikan yang sudah digariskan oleh para pendiri Pesantren. Sebisa mungkin santri memang diupayakan untuk menjadi generasi yang kreatif menulis, namun tidak sampai lepas kendali. Tujuan Sidogiri adalah mencetak para penulis yang memegangteguh prinsip-prinsip Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Selain menfilter isi dari berbagai tulisan di media-media tersebut, BPP juga melakukan koreksi terhadap aspek jurnalistik, baik yang terkait dengan tata tulis naskah maupun tampilan grafisnya. Hal ini dimaksudkan agar redaksi dari berbagai media tersebut semakin berkembang dalam hal kemampuan jurnalistiknya.


Media Milik Pondok Pesantren Sidogiri
NO.
NAMA MEDIA
SEGMEN
INSTANSI PENGELOLA
ORIENTASI
1
Buletin Sidogiri
Masyarakat Umum
Sekretariat
Kajian, refleksi dan informasi
2
Website SidogiriDotNet
Masyarakat menengah ke atas
Sekretariat
Kajian, diskusi, refleksi dan informasi
3
Majalah IJTIHAD
Santri dan Alumni
Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM-Aliyah)
Kajian, refleksi dan santai
4
Buletin Nasyith
Kalangan Sendiri
Pengurus Pusat Ikatan Santri Sidogiri
Santai, pergaulan dan gaya hidup islami
5
Buletin Istinbat
Kalangan pesantren
Kuliah Syariah
Kajian serius
6
Buletin Tau’iyah
Masyarakat Umum
Bag. Ubudiyah
Penyadaran ibadah
7
Bina Saadah
Masyarakat Umum
Yayasan Bina Saadah Sidogiri
Penyadaran sosial
8
Mading Maktabati

Kalangan Sendiri

Perpustakaan Sidogiri

Dunia buku dan informasi
9
Mading Himmah

Kalangan Sendiri

Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM-Aliyah)

Tabiyah, Muamalah, Dakwah
10
Mading Madinah

Kalangan Sendiri

Annajah Madrasah Tsanawiyah.

Sosialisasi paham Ahlussunnah
11
Mading Koreksi

Kalangan Sendiri

Pengurus Pusat Ikatan Santri Sidogiri

Problem keagamaan dan sosial-kemasya-rakatan, terutama di daerah basis Sidogiri
12
Mading Ibtikar
Kalangan Sendiri
Lembaga Pengembangan Bahasa Arab dan Asing (LPBAA)

Pengembangan Bahasa Arab/Asing
13
Mading Tafaqquh
Kalangan Sendiri
Kuliah Syariah
Kajian Islam
14
Majalah Maktabatuna
Masyarakat Umum
Perpustakaan Sidogiri
Dunia Buku

H. KOORDINASI SEKRETARIS UMUM
a. Ikatan Santri Sidogiri (ISS)
Ikatan Santri Sidogiri (ISS) merupakan organisasi santri di Pondok Pesantren Sidogiri yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas santri. Organisasi ini didirikan pada 15 Muharram 1419 / 12 Mei 1998. Terdapat tiga bidang yang digarap oleh organisasi ini dalam rangka mengembangkan kreativitas santri, yaitu : Seni, tulis menulis, dan komputer.
Kegiatan ISS dijalankan dengan swadaya dari santri-santri sendiri. Pengurus hanya menetapkan garis-garis umum, dan ikut mengawasi perjalanannya. Sedangkan, pelaksanaan, tata teknis dan lain sebagainya dilakukan oleh santri-santri sendiri.
1. Bidang Seni
Dalam pengembangan bidang seni, ISS mempunyai tiga jamiyah (unit kegiatan), yaitu:
1. Jamiyah al-Muballighin, sebuah jamiyah yang khusus melatih keterampilan santri dalam berorasi. Untuk membekali para anggotanya, jamiyah ini menyelenggarakan diklat retorika berpidato dengan mendatangkan tutor yang telah terjun di dunia dakwah.
2. Kedua, Jamiyah Tahsinul-Khat, yang menfasilitasi santri dalam mengembangkan keterampilan seni kaligrafi Arab. Materi pelatihan yang diselenggarakan adalah seputar kaidah dasar beberapa jenis tulisan Arab (khat) dan hiasan-ornamen mushaf (iluminasi). Pada setiap akhir tahun ajaran, jamiyah ini menyelenggarakan pameran, Sidogiri Expo, yang memamerkan karya para anggota Jamiyah Tahsinul-Khat. Pada tahun ini, para pengurusnya menerbitkan buku tentang kaidah tahsinul-khat dan ilmunasi.
3. Jamiyah Dufuf, jamiyah binaan ISS yang memberikan pelatihan keterampilan memainkan rebana (hadrah). Hadrah ala Banjari dan Manduri merupakan jenis hadrah yang ditekuni. Semua pelatihan yang difasilitasi oleh tiga lembaga ini dilaksanakan tiap satu pekan sekali. Karena bersifat ekstra, pelaksanaannya dilakukan pada hari libur, yaitu Jumat.
2. Tulis Menulis

Untuk menampung minat santri dalam dunia tulis menulis, ISS menerbitkan dua media, yaitu:
1. Buletin Nasyith. Terbit setiap bulan. Tiap kali terbit, oplah Buletin Nasyith sekitar 1000 eksemplar. Orientasi isi dari Buletin Nasyith adalah pergaulan remaja dan gaya hidup islami ini.
2. Mading Koreksi. Terbit setiap dua pekan sekali. Pada pertengan tahun ini, tim redaksi mading ini berhasil meraih juara juara I dan masuk dalam kategori mading favorit di even lomba mading tingkat SMP/SMA/Pesantren yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Pasuruan.
3. Pengenalan Komputer
Kursus pengenalan komponen komputer dan aplikasi software dasar perkantoran seperti Microsoft Word dan Excel setiap tahun diselenggarakan oleh ISS. Kursus ini diperuntukkan bagi murid Madrasah Miftahul Ulum tingkat Aliyah. Pada tahun ini, pengurus ISS menambah alokasi waktu pelaksanaan kursus pada libur santri bulan Ramadhan. Mengingat banyaknya permintaan dari kalangan luar Pondok Pesantren Sidogiri yang akan mengikuti kursus komputer, terutama dari madrasah-madrasah ranting Madrasah Miftahul Ulum di sekitar wilayah Pasuruan.
4. Yayasan Bina Saadah Sidogiri
Yayasan Bina Saadah Sidogiri (YBSS) berdiri pada tanggal 01 Jumadal Ula 1426/8 Juni 2005. Lembaga ini didirikan untuk meningkatkan kiprah Pondok Pesantren Sidogiri dalam bidang sosial. Saat ini, YBSS memiliki empat sub lembaga, yaitu: Laziswa Sidogiri, Darul Aitam Sidogiri Surabaya (DAS-Surabaya), Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Shafa Marwah, dan Darul Khidmah Sidogiri (DKS).
5. Laziswa Sidogiri
Laziswa Sidogiri didirikan sebagai upaya untuk mengikis kesenjangan antara masyarakat yang taraf ekonomi atas dan masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Lembaga ini aktif menampung dan mendistribusikan dana sosial.
Untuk menghimpun dana, Laziswa Sidogiri menyosialisasikan gerakan sadar zakat yang dikemas dengan forum dialog, mendatangi para pengusaha atau lembaga-lembaga di luar pesantren, dan merekrut koordinator penggali dana di beberapa wilayah di Pasuruan.
Dalam mendistribusikan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf dari para donatur kepada masyarakat yang kurang mampu, Laziswa Sidogiri mempunyai empat program, yaitu: Program Kusir (Kucuran Subsidi Fakir), Program Pelana (Pendidikan dan Pelatihan Siap Guna), Kuda (Kucuran Dana Usaha), dan Pedati (Pembinaan Dai Terlatih).  Selain pemberian bantuan dalam bentuk uang tunai, layanan jasa, dan bahan kebutuhan pokok, Laziswa Sidogiri juga mendistribusikan zakat berbentuk barang-barang yang bisa membantu para penerima zakat untuk mengembangkan usahanya (zakat produktif).
6. Darul Aitam Sidogiri Surabaya (DAS Surabaya)
DAS Surabaya adalah pesantren yatim yang didirikan oleh alumni Pondok Pesantren Sidogiri di Surabaya. Sejak tahun 1419 H, pengelolaan DAS Surabaya diserahkan kepada Pondok Pesantren Sidogiri, yaitu di bawah koordinasi Ketua II Pondok Pesantren Sidogiri. Pada tahun 1426, ketika YBSS berdiri, DAS Surabaya dikelola oleh YBSS.
Menempati gedung seluas 160 m2 x 3 lantai dan gedung seluas 160 m2 x 1 lantai di Jl Bonowati I/25 Simolawang Simokerto Surabaya, saat ini DAS Surabaya menampung 76 anak yatim ditambah 72 anak purna asuh (sudah mencapai usia akil balig) dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Fasilitas gedung tersebut sudah termasuk asrama santri, ruang kelas, perpustakaan, dapur, dan kantor.
Karena fasilitas yang ada sudah tidak memadai, maka pada tahun ini Pengurus YBSS dan DAS Surabaya sedang mengupayakan penambahan gedung baru di Jl Bolodewo 30 Simolawang Simokerto Surabaya, sekitar 15 meter dari gedung pertama. Gedung baru tiga lantai ini akan dibangun di atas tanah seluas 240 m2 . Selain penambahan gedung, pada tahun ini DAS-Surabaya juga meresmikan pembukaan cabang baru di Lumajang yang terletak di Jl Brigjen Katamso No. 3 Lumajang.
 7. KBIH Shafa Marwah
KBIH Shafa Marwah merupakan salah satu badan milik YBSS yang bertugas melakukan bimbingan manasik haji kepada masyarakat. Badan ini didirikan pada bulan Rabius Tsani 1429. Namun untuk melangkah lebih jauh, badan ini terbentur dengan peraturan pemerintah tentang larangan pembukaan biro perjalanan haji baru.
8. Darul Khidmah Sidogiri
Kepedulian terhadap masa depan anak-anak dari keluarga miskin mendorong alumni Pondok Pesantren Sidogiri di Jakarta untuk mendirikan pesantren yang diberi nama Darul Khidmah Sidogiri (DKS). Lembaga yang masih dalam tahap pembangunan sarana dan prasarananya ini, kelak akan menampung anak-anak dari keluarga yang kurang mampu untuk diberi bekal ilmu pengetahuan agama dan pendidikan umum. DKS berbeda dengan DAS Surabaya yang hanya menampung anak-anak yatim.
Pesantren ini terletak di Pamahan Jatireja Bekasi. Pengelolaan DKS diserahkan kepada YBSS. Sumber dana pembangunan dan biaya operasional lembaga ini dicukupkan dari sumbangan para alumni di Jakarta dan tidak menutup kemungkinan sumbangan dari para simpatisan.
9. Sekretariat
Pusat Layanan yang Menyenangkan
Sebagai pusat seluruh proses layanan administrasi dan hal-hal lain yang terkait dengan pesantren, Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri berkomitmen menerapkan motto layanan yang cepat, akurat, dan hemat. Motto layanan ini juga disempurnakan dengan pelayanan yang mengedepankan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun).
Sekretariat menjadi pengendali dari seluruh proses administrasi dan manajemen Pondok Pesantren Sidogiri. Program Kerja Pengurus, sebagai tulang punggung utama manajemen Pondok Pesantren Sidogiri, dibuat dalam periode kerja tahunan berdasarkan usulan dari bawah ke atas. Pelaksanaan dari program-program ini dievaluasi setiap bulan dalam laporan Pengurus Pleno terhadap Pengurus Harian.
Selain dari laporan Pengurus Pleno, Sekretariat menghimpun semua informasi tentang kondisi riil Pondok Pesantren Sidogiri dari laporan bulanan yang dilakukan oleh Kepala Kamar secara bergantian kepada Kepala Daerah dan Pengurus Harian yang menangani kedaerahan. Dari laporan mereka ini, Sekretariat menghimpun informasi-informasi sampai ke lingkup yang sangat kecil.
Ada lima tugas pokok yang ditangani oleh Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri, yaitu: Hubungan Masyarakat (Humas) dan Informasi, Keorganisasian Santri, Pengembangan Teknologi Informasi, Penyediaan dan Pengelolaan Data, serta Penanganan Arsip dan Korespondesi. Masing-masing tugas ini ditangani oleh seorang sekretaris yang dibantu oleh beberapa staf, dan dikoordinir oleh Sekretaris Umum.

I. KOORDINASI BENDAHARA UMUM PONDOK PESANTREN SIDOGIRI
a. Kopontren Sidogiri
Sebuah lembaga pendidikan sulit untuk berjalan tanpa ada dukungan finansial yang kuat. Oleh karena itu, Kopontren Sidogiri sebagai salah satu badan usaha milik Pondok Pesantren Sidogiri terus melakukan peningkatan dan perbaikan di segala bidang, baik sistem maupun manajemennya. Hal ini dilakukan agar Kopontren Sidogiri mampu mengejar target yang telah ditetapkan oleh pengurus Pondok

1 komentar:

  1. ikut nyimak tulisan-tulisan yang dipostingkan di blog ini .. sukses

    BalasHapus